Yah sudah seharusnya pasang mata jeli mengetahui klo skrg ada AI setelah filter snapchat bikin orang2 bingung mana nyata mana boongan.
Lebih dari itu, penggunaannya untuk fitnah dan pesan palsu untuk kepentingan pribadi bahkan merugikan korbannya tanpa ampun.
Beda klo make-up, itu bisa gw hargai karena itu perlu waktu dan keahlian si cewek untuk tampil secara nyata di hadapan kita. Sedangkan utk para laki2, kita bisa latihan ngobrol yg karismatik dan penuh humor juga rawat diri biar bisa dibedain orang mana manusia dan mana hewan.
Kalau bener2 mau nipu orang atau pasangan, seenggaknya berlapis dan ada niatnya, lah, untuk jangka panjang kyk penyamaran loyalitas di tangga korporat atau pencucian citra sosial, dan lainnya yg bisa menguntungkan diri dan orang lain. Kalo dari awal u cuma rekayasa tampang sendiri doang, u gabakal hidup lama, dan selama ini cewekmu jatuh cinta ama orang lain yg u buat di AI Image Creator, bukan dirimu, pinter.
Pernah denger kutipan yg berbunyi "Jadilah dirimu sendiri." gitu? Itu pegangan hidup gw selama ini, seenggaknya setelah denger nasihat sepuh di suatu organisasi sekolah. Asal masuk akal aja dan gak bikin orang gedeg, seharusnya aman2 aja.
Kalo dari awal u udah boongin orang2 bahkan pasanganmu sendiri tentang dirimu, tampangmu terutama. Di akhir, u gaakan dipercaya orang2 - hancur reputasimu. Pernah denger fabel Aesop tentang bocah yg teriak serigala? Itu nasib u kurang lebih klo u gak mau berhenti boongin orang.
Hidup itu layaknya panggung sandiwara, ada saatnya u bisa berlaku bebas (depan panggung), dan ada saatnya ketika u kudu balik ke dunia nyata (balik panggung). Atas panggung dan dibaliknya itu dua sisi dunia yang beda. Yang perlu diperhatiin itu adalah "ngaca" dan sadar diri ttg di mana u berdiri. Orang2 layaknya juri untuk nilai reputasimu di tangga sosial (Goffman, 1959).
Lengkapnya, dalam buku Frame Analysis buatan Goffman, dia bilang kalo yang terpenting itu adalah kesan yang aktor (seseorang) berikan kepada audiens (orang lain) melalui interaksinya dengan mereka, mengenai seperti apa dirinya di balik peran yang ia mainkan (Goffman, 1974).
Beda lagi klo u mau smurfing di bidang perkencanan ini, ya. Antara itu bakal berjalan memuaskan menembus ekspektasi, atau kencannya jadi canggung karena si cewek mengharapkan pengecut yg bisa dia kontrol (terlalu jauh lah, ya? wkawkakw).
Pada akhirnya, dunia ini nggak peduli seberapa bagus topeng yang u palsuin, baik itu pake AI, filter, atau bahkan wajah kawanmu sendiri. Para juri akan selalu nagih "bukti" di panggung belakang. Kalau u pilih buat smurfing, u lagi ngelakuin audit karakter yang paling jujur: siapa yang mau duduk di meja bareng "pecundang" sebelum mereka tahu u itu pemain utamanya? Karena di akhir drama, kemenangan paling mutlak bukan yang dapet banyak match di Tinder, tapi dapetin seseorang (atau lebih) yang nggak bakal lari saat pas liat wajah aslimu.
Sumber Pustaka:
Goffman, E. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life. New York: Anchor Books.Goffman, E. (1974). Frame Analysis: an Essay on the Organization of Experience. Boston Northeastern University Press.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar