Akhir2 ini, gw lg asik belajar Industri Budaya, teori kritis yg diungkapkan ama Theodor W. Adorno & Max Horkheimer ttg gimana budaya itu dijadikan industri yang sifatnya mengubah nilai2 autentik keren jadi produk massal gak berjiwa demi keuntungan perusahaan dalam konteks perdagangan kapitalis.
Awalnya ini iseng baca2 karena gw dapet akses ke materi dan buku2 akademik keren yg gw cari tau sendiri lewat jalan pintas bikin bukunya jadi gratisan (huhuy). Gw pake waktu yg seharusnya digunakan bwt garuk biji malah dipake bwt produktif. Sangat tidak menggambarkan gw banget, kapan lagi gw bisa produktif cari ilmu dan bukan cari sensasi?
Singkat cerita, gw keasyikan baca buku2 ini sampe banyak pusing dan ngelamun ngaitin ini ama hidup, nasib gw dan orang lain, mw itu dalam konteks karir/pekerjaan, maupun tentang kedaulatan diri secara umum. Mayan guna pantengin cewek cakep pake alasan "observasi akademik". Rasain tu, pembingkaian pesan.
Satu hal yg buat gw terpana ama teori industrifikasi budaya ini adalah ttg latar belakangnya yg intinya itu Adorno kaget ngeliat Hollywood utk pertama kalinya pada tahun 1941, di mana dia mikir klo gemerlap kehidupan Amerika mirip ama fasisme di Jerman pada jamannya. Spesifiknya, perbandingan tentang gimana Jerman mengelabui masyarakatnya secara keras melalui propaganda, intimidasi, paksaan, dan lainnya. Sedangkan Amerika mengelabui masyarakatnya melalui "propaganda halus" dengan memanfaatkan hiburan kyk papan iklan besar, fantasi film, dan lagu pop/jazz sebagai hiburan yg menginterpretasikan kebahagiaan palsu atau sementara. Sebagaimana seucap Adorno dalam salah satu esaynya: "they cheat them out of the same happiness which it deceitfully projects".
Perlu gw sebutin ini kocak bat lagu pop/jazz disebut ama dy sebagai racun otak masyarakat awakowkaow. Sepayah itu genre jazz dan pop di mata akademikawan.
Jadi, ini bikin gw keingetan ama istilah bahkan jadi buzz word pada zamannya di mana lagu metal lagi asyik (1970-1990), mereka hobi ngucapin ini dalam lirik2 lagu genre itu, yaitu "neon lights", "neon jungle", "blinding lights", dan lain sebagainya yang ada kaitannya ama "cahaya neon yang membutakan/gemerlap". Gw sadar penuh klo ini tu bentuk metafora utk ngomongin tentang kehidupan glamor di kota (biasanya sudut2 kota nakal) yang sifatnya menipu para penghuni dan pendatangnya.
Gw keingetan ama lagu yg cukup sering gw dengerin, judulnya "Shake For Me", lagu buatan band Shark Island tahun 1989. Liriknya itu ada nulis "Angylene, your broken soul in the neon jungle", lengkapnya, lagu ini ngejelasin ttg gimana dua orang - sang penyanyi dan Angylene, terjebak dalam dunia liar yang menipu dan mengorbankan jiwa serta moral mereka di mana para perempuan (termasuk Angylene) terlena dengan "mimpi" seorang gadis di kota - terjebak oleh tipu daya "neon jungle" diikuti dengan sang penyanyi yang datengin si Angylene (yang skrg jadi kyk penari eksotis/pelacur) utk nenangin diri dari sulitnya hidup di kota utk sementara.
Jadi, ini bikin gw keingetan ama istilah bahkan jadi buzz word pada zamannya di mana lagu metal lagi asyik (1970-1990), mereka hobi ngucapin ini dalam lirik2 lagu genre itu, yaitu "neon lights", "neon jungle", "blinding lights", dan lain sebagainya yang ada kaitannya ama "cahaya neon yang membutakan/gemerlap". Gw sadar penuh klo ini tu bentuk metafora utk ngomongin tentang kehidupan glamor di kota (biasanya sudut2 kota nakal) yang sifatnya menipu para penghuni dan pendatangnya.
Gw keingetan ama lagu yg cukup sering gw dengerin, judulnya "Shake For Me", lagu buatan band Shark Island tahun 1989. Liriknya itu ada nulis "Angylene, your broken soul in the neon jungle", lengkapnya, lagu ini ngejelasin ttg gimana dua orang - sang penyanyi dan Angylene, terjebak dalam dunia liar yang menipu dan mengorbankan jiwa serta moral mereka di mana para perempuan (termasuk Angylene) terlena dengan "mimpi" seorang gadis di kota - terjebak oleh tipu daya "neon jungle" diikuti dengan sang penyanyi yang datengin si Angylene (yang skrg jadi kyk penari eksotis/pelacur) utk nenangin diri dari sulitnya hidup di kota utk sementara.
Lagu penuhnya bisa cek dan dengarkan sendiri dgn klik tautan di samping [https://youtu.be/bCxWitgU0iE] Lirik lengkapnya bisa u cek di bawah sini, (sumber dari Letras):
Rocking around this great big world of madness
We're talking, rockin' the city all night long
There's a place with a girl in this world of sadness
Where the dreams of a woman crumble to the ground
Just another day, to take my breath away
Shake for me, Angylene
Your broken soul in the neon jungle
Shake for me, Angylene, That's the way
Shake for me, Angylene
We can try to stop the madness
Shake for me, Angylene, 'Til I break
When I get down I ride on through the back-road
To a seedy part of town but it's all the same
I pay the price I get enticed, it's a mind game
But this game is what I need to make my day
Just another day, to lead my soul astray
Shake for me, Angylene
Your broken soul in the neon jungle
Shake for me, Angylene, That's the way
Shake for me, Angylene
We can try to stop the madness
Shake for me, Angylene, 'Til I break
Just another day, waiting for a resurrection
Only one more day, c'mon, take my breath away
Shake for me, Angylene
Your broken soul in the neon jungle
Shake for me, Angylene,That's the way
Oh, shake for me, Angylene
We can try to stop the madness
Shake for me, Angylene, 'Til I break
Shake for me, Angelyne
(Shake for me) Angylene
(Shake for me) Angylene
(Shake for me) Angylene
(Shake for me) Angylene
Wih, keren banget gak tuh? W suka banget ama hal2 yg diromantisasi, mw itu keren, romantis, maupun yg kosong kyk gini. Sing penting sosoan keren, tapi klo eksekusinya bener, ya gw pasti jatuh cinta. Contoh yg eksekusinya gagal itu kyk Steven Seagal btw, payah, benci bat gw ama org itu.
Hubungan antara lagu ini dan industri budaya itu gede banget. W gatau kalian bisa sadar dan memahami perasaan gw atw enggak, tapi utk menyadari hal2 dan mengaitkannya satu sama lain itu nikmatnya euforik! Kesadaran akan hal2 yg jauh jaraknya bisa u sederhanakan layaknya kyk dari Sabang sampai Merauke jadi kyk hanya dari kosan gw ke warteg mak Ijah di samping. Ahh, nikmatnya enak banget, tai. Sayang banget klo u gak dapet apa yg w dapet. Baik banget gw mw bagi ini ke kalian.
Hubungan antara lagu ini dan industri budaya itu gede banget. W gatau kalian bisa sadar dan memahami perasaan gw atw enggak, tapi utk menyadari hal2 dan mengaitkannya satu sama lain itu nikmatnya euforik! Kesadaran akan hal2 yg jauh jaraknya bisa u sederhanakan layaknya kyk dari Sabang sampai Merauke jadi kyk hanya dari kosan gw ke warteg mak Ijah di samping. Ahh, nikmatnya enak banget, tai. Sayang banget klo u gak dapet apa yg w dapet. Baik banget gw mw bagi ini ke kalian.
Neon jungle, cuy, neon jungle! Biar gw putarkan kepalamu yang batu itu. "Neon lights" itu janji palsu kebahagiaan yang ditawarkan orang2 kapitalis mata duitan ini utk perah duit bahkan penis atau moralmu sebagai sebagai seorang laki dan perempuan demi keuntungan kelompok mereka sendiri! Seenggaknya apa yg diucapkan pesimistis sejati asal sekolah Frankfurt ini. Gemerlap neon yang ditampilkan di Hollywood dan lirik lagu tadi tu bukan ngasih liat cerahnya kehidupan, melainkan umpan utama dari jebakan bagi dompetmu yg gw percaya lebih tipis daripada irisan tempe warung Mak Ijah.
Dan layaknya gw ke warung mak Ijah, gw tetep kembali lagi utk nyicip tempenya yang kaya akan bumbu racikan dan MSG penikmat indra pengecap gw meskipun gw tau si tai pasang harga lima rebu utk tempenya yg tipisnya kyk 2 lembar kertas HVS, sebagaimana sang penyanyi dari lagu ini tetep kembali ke distrik merah utk muasin nafsunya yg fana daripada cari kebahagiaan sejati kyk baca essay dan komik strip buatan gw (ironi dikit gak masalah y, wkwkwk).
"Where the dreams of a woman crumble to the ground / Your broken soul in the neon jungle..." Itu adalah potongan dari lirik lagunya, keliatan banget tuch gambaran akan ilusi nikmat dunia yang membutakan. Karakter "Angylene" itu jadi representasi sempurna dari korban janji palsu yg gw maksud itu, mimpinya dihancurin bareng ama jiwanya oleh gemerlapnya hutan neon.
Dan layaknya gw ke warung mak Ijah, gw tetep kembali lagi utk nyicip tempenya yang kaya akan bumbu racikan dan MSG penikmat indra pengecap gw meskipun gw tau si tai pasang harga lima rebu utk tempenya yg tipisnya kyk 2 lembar kertas HVS, sebagaimana sang penyanyi dari lagu ini tetep kembali ke distrik merah utk muasin nafsunya yg fana daripada cari kebahagiaan sejati kyk baca essay dan komik strip buatan gw (ironi dikit gak masalah y, wkwkwk).
"Where the dreams of a woman crumble to the ground / Your broken soul in the neon jungle..." Itu adalah potongan dari lirik lagunya, keliatan banget tuch gambaran akan ilusi nikmat dunia yang membutakan. Karakter "Angylene" itu jadi representasi sempurna dari korban janji palsu yg gw maksud itu, mimpinya dihancurin bareng ama jiwanya oleh gemerlapnya hutan neon.
Ini ngeliatin gimana ilusi duniawi ini ngebegoin enggak hanya si penyanyinya doang, tapi juga si Angylene. Satu pihak yg dijadikan produk (Angylene) dan satu laginya jadi konsumennya itu sendiri (sang penyanyi). Angylene dengan lekukan dan keindahan tubuhnya yg "wah" bukannya dijaga malah dipertontonkan dan digunakan ("shake for me") demi bertahan hidup di "seedy part of town". Sedangkan si penyanyi dengan sadar dan tanpa niat jahat datengin si Angylene utk bius stres dia dari kehidupan nyata yang merayap ke pikirannya ("We can try to stop the madness 'til I break"). Ini klo Ouroboros berjiwa kapitalis, kurang lebih kyk gini bentukannya.
Tentang si penyanyi, dia tu digambarkan di lirik lagu sebagai pekerja yang kecapean dan teralienasi ama sistem kapitalis yang memerah jasa dan raga dia, terkutip dalam "world of madness", dia gak dikasih ruang nyata utk beneran istirahat. Industri budaya sosoan ngasih ruang istirahat palsu atau katarsis semu melalui Angylene sebagai pemuasan hasrat nafsu biologis, atau klo kata Adorno itu "Ersatzbefriedigung", hiburan murahan atau nikmat instan.
Sedikit komentar, gw rada pilu ama keadaan skrg yg semakin parah karena teknologi udh bisa memudahkan hamba2 penafsunya utk bermaksiat tanpa keluar rumah atau duit, hanya bermodal kuota internet dan tangan, klo u paham maksud gw. Jawaban terbijak adalah utk adaptasi dengan perkembangan teknologi biar u gak kemakan ama diri sendiri yg dimanipulasi tren jaman.
Tentang si penyanyi, dia tu digambarkan di lirik lagu sebagai pekerja yang kecapean dan teralienasi ama sistem kapitalis yang memerah jasa dan raga dia, terkutip dalam "world of madness", dia gak dikasih ruang nyata utk beneran istirahat. Industri budaya sosoan ngasih ruang istirahat palsu atau katarsis semu melalui Angylene sebagai pemuasan hasrat nafsu biologis, atau klo kata Adorno itu "Ersatzbefriedigung", hiburan murahan atau nikmat instan.
Sedikit komentar, gw rada pilu ama keadaan skrg yg semakin parah karena teknologi udh bisa memudahkan hamba2 penafsunya utk bermaksiat tanpa keluar rumah atau duit, hanya bermodal kuota internet dan tangan, klo u paham maksud gw. Jawaban terbijak adalah utk adaptasi dengan perkembangan teknologi biar u gak kemakan ama diri sendiri yg dimanipulasi tren jaman.
"To a seedy part of town but it's all the same / I pay the price I get enticed, it's a mind game / But this game is what I need to make my day..."
Coba baca tu gimana sang narator bahkan secara sadar tau klo apa yg dilakuinnya itu salah, tapi karena tekanan hidup begitu mempenatkan bikin dia mau aja utk melalui hari2 yg tiada habisnya, dibawa lebih dalam ke rabbit hole, atau mungkin dalam konteks ini: Angylene's hole. Ini adalah definisi akurat dari "katarsis semu", kawan2. Ada katarsis semu, dan ada obat nyata - jangan salah pilih lubang. Wkwkw, bego.
Maka, itutuh, sensitivitas gw menangkap hubungan antara istilah metal "blinding neon lights" ke karakter sinisnya Adorno ama propaganda halus Amerika. Gw yakin ini lagu tu ratapan band Shark Island tentang keluh kesah mereka berusaha hidup di kota yang menyedot jiwamu - sampai kering ama Angylene.
Coba baca tu gimana sang narator bahkan secara sadar tau klo apa yg dilakuinnya itu salah, tapi karena tekanan hidup begitu mempenatkan bikin dia mau aja utk melalui hari2 yg tiada habisnya, dibawa lebih dalam ke rabbit hole, atau mungkin dalam konteks ini: Angylene's hole. Ini adalah definisi akurat dari "katarsis semu", kawan2. Ada katarsis semu, dan ada obat nyata - jangan salah pilih lubang. Wkwkw, bego.
Maka, itutuh, sensitivitas gw menangkap hubungan antara istilah metal "blinding neon lights" ke karakter sinisnya Adorno ama propaganda halus Amerika. Gw yakin ini lagu tu ratapan band Shark Island tentang keluh kesah mereka berusaha hidup di kota yang menyedot jiwamu - sampai kering ama Angylene.
Terimakasih atas ilmunya, Theodor W. Adorno. U jadi Yahudi favorit gw setelah Einstein. Berharap banyak gw bisa jadi semacam akademikawan yg penuh sensasi. Tapi, sebelumnya gw mw nyamperin Angylene dlu, ada keperluan mendesak...
Daftar Referensi:
Adorno, T. W. (1941). On popular music. Studies in Philosophy and Social Science, 9(1), 17–48.
Adorno, T. W. (1991). The Culture Industry: Selected Essays on Mass Culture (J. M. Bernstein, Ed.). London: Routledge.
Adorno, T. W., & Horkheimer, M. (1947). Dialectic of Enlightenment (J. Cumming, Trans.). New York: Continuum.
Letras. (2026). Shake For Me - Shark Island (Lyrics & Translation). Dipetik dari Letras Database.
Shark Island. (1989). Shake for Me [Rekaman Audio]. Dalam Law of the Order [Album]. Epic Records.
Daftar Referensi:
Adorno, T. W. (1941). On popular music. Studies in Philosophy and Social Science, 9(1), 17–48.
Adorno, T. W. (1991). The Culture Industry: Selected Essays on Mass Culture (J. M. Bernstein, Ed.). London: Routledge.
Adorno, T. W., & Horkheimer, M. (1947). Dialectic of Enlightenment (J. Cumming, Trans.). New York: Continuum.
Letras. (2026). Shake For Me - Shark Island (Lyrics & Translation). Dipetik dari Letras Database.
Shark Island. (1989). Shake for Me [Rekaman Audio]. Dalam Law of the Order [Album]. Epic Records.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar